HUKUMAN MATI BAGI KORUPTOR: BISAKAH?

0 komentar

Semakin tua usia reformasi justru membuat korupsi semakin menggila. Reformasi yang digadang-gadang bisa menekan bahkan memberantas para koruptor di Indonesia malah menjadi bumerang. Kini, segala aspek telah terjangkit virus korupsi, mulai dari anggota DPR hingga dirjen pajak melakukan tindak korupsi. Ironisnya, para penegak hukumnya pun tak mau ketinggalan melakukan korupsi. Cita-cita reformasi yang menginginkan Indonesia bebas korupsi nyatanya hanya berhasil melengserkan pemimpin orde baru saja, Soeharto. Setelah Soeharto turun tahta, para koruptor pun seakan bernyanyi lagu Nasional Gugur Bunga; “… mati satu tumbuh seribu…” (dalam hal korupsi).

Indonesia bisa diibaratkan keluar dari mulut singa, masuk mulut buaya dalam hal tindakan korupsi. Seperti tak ada perubahan, – bahkan berubah menjadi lebih buruk – korupsi berkembang pesat sepeninggal Soeharto dari tampuk kekuasaan di Indonesia. Korupsi yang dilakukan Soeharto memang berjumlah sangat besar, namun jumlah sebesar itu tak ada artinya jika dibandingkan dengan tindakan korupsi di era reformasi ini. Sebut saja kasus Bank Century, atau yang paling populer saat ini adalah kasus Gayus, dan juga masih banyak kasus lainnya. Dari dua kasus yang disebutkan pertama saja negara telah dirugikan hingga triliunan rupiah. Kasus Century saja sudah merugikan negara sebesar 6,7 triliun rupiah, belum lagi ditambah kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh pegawai pajak golongan III A Gayus Halomoan P. Tambunan. Ini jelas menunjukkan bahwa Indonesia belumlah sepenuhnya terbebas dari krisis moral para pejabatnya.

Para penegak hukum pun seperti kehilangan arah dalam upaya pemberantasan korupsi. Uang sudah membutakan mata para penegak hukum itu. Sebut saja pada kasus Gayus. Tercatat 10 kejanggalan dalam penanggulangan kasus tersebut (Koran TEMPO Senin, 22 November 2010 Halaman 1) yang 7 di antaranya melibatkan para penegak hukum dalam pengusutannya kasus tersebut. Kejanggalan yang terbaru tentu saja kasus keluarnya Gayus dari rumah tahanan Markas Komando Brimob untuk melakukan pelesir ke Bali. Kasus ini jelas menunjukkan bahwa polisi seperti tidak serius dalam menangani Gayus. Bagaimana mungkin bisa seorang tersangka yang sudah menghuni rumah tahanan bisa ditemukan sedang menonton tenis di Bali? Tentu ini menjadi sebuah tamparan keras terhadap penegakan hukum di Indonesia. Opini pun bermunculan, bahwa polisi sungguh tak serius dalam menusut kasus Gayus.
Korupsi memang telah menjangkit segala aspek dalam negara ini, tentu saja tak terkecuali lembaga penegak hukumnya. Polisi, jaksa, hingga hakim pun kini bisa disogok dengan sejumlah uang. Tujuannya, tentu saja rekayasa hukum, dan berbagai rekayasa lainnya. Penegak hukum sudah tidak objektif lagi. Dan lagi-lagi, rakyatlah yang menjadi korban, rakyatlah yang selalu dirugikan, karena yang dikorupsi itu tentu saja uang negara, dan itu adalah uang rakyat. Untuk itu, harus ada suatu hukuman yang tegas untuk membuat para koruptor itu takut untuk melakukan tindakan korupsi.

Munculah pertanyaan klasik, apakah hukuman yang pantas untuk para koruptor itu? Tentu jika melihat kondisi Indonesia yang menderita penyakit korupsi yang sangat parah ini, hukuman mati sepertinya akan menjadi jalan keluar yang terang dalam upaya pemberantasan korupsi. Biar bagaimana pun, hukuman mati akan memberikan sebuah efek jera dan rasa takut untuk melakukan korupsi, namun mantan pimpinan KPK, Bibit Samad Riyanto, mengatakan lain dalam forum seminar yang bertajuk “Format Hukuman yang Efektif Bagi Koruptor Hukuman Mati?”. Bibit menilai bahwa ancaman hukuman mati bagi para koruptor di Indonesia ternyata tidak akan memberikan efek jera pada pelaku korupsi dan tentu saja para koruptor tidak akan takut dengan ancaman itu. Menurutnya, akan sulit menuntut hukuman maksimal itu kepada para koruptor karena persepsi tiap lembaga hukum di Indonesia terhadap korupsi berbeda-beda. Selain itu untuk mengetahui hukuman mati itu memberikan efek jera atau tidak, tentu tidak akan terlihat karena hukuman itu tidak pernah diberlakukan sebelumnya.

Pada akhirnya, para koruptor hanya akan tertawa melihat upaya pemberantasan korupsi yang terkesan setengah hati itu. Presiden pun seperti malu-malu dalam menggunakan hak prerogatifnya dalam upaya pemberantasan korupsi. Kita seharusnya meniru hukum islam yang memotong tangan setiap orang yang mencuri, dan korupsi sama dengan mencuri. Pertanyaannya, siapkah pemimpin kita untuk menerapkan sistem hukuman yang berasal dari agama islam untuk menghukum para koruptor?

Depok, 26 November 2010
(Muhammad Atqo, Sastra Indonesia UI 2009)

Jangan Kirimi Aku Bunga Lagi

1 komentar

Aku mendapat bunga hari ini

Meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku

Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar

Dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan

Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena hari ini ia mengirimi aku bunga

Aku mendapat bunga hari ini

Ini bukan ulangtahun perkawinan kami atau hari istimewa kami

Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku

Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku

Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena ia mengirim bunga padaku hari ini

Aku mendapat bunga hari ini, Padahal hari ini bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain

Semalam ia memukul aku lagi, lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu

Aku takut padanya tetapi aku takut meningggalkannya

Aku tidak punya uang

Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?

Namun, aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam, karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga

Ada bunga untukku hari ini

Hari ini adalah hari istimewa... inilah hari pemakamanku

Ia menganiayaku sampai mati tadi malam

Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya, aku tidak akan mendapat bunga lagi hari ini...



*untuk mereka yang senang menganiaya wanita

Ini Tentang.... Ironi!

0 komentar

Ah, selalu kumulai sebuah puisi dengan "ah"
Karena hati ini selalu lelah
Merasa bersalah
Tanpa mau mengalah

Ah, hanya mengeluh yang bisa kuucap
Untuk kalimat yang sering tak terucap

Ah, mulutmu mudah mengucap sesuatu yang ma'ruf
Namun hati dan kelakuanmu seakan menyebar kemungkaran
Menganggap sama pacaran dan ta'aruf
Mencari-cari segala pembenaran

Sungguh, dirimu adalah sebuah ironi
Jika kata itu tak memenuhi kaidah EYD, maka.....
Kau adalah seorang munafik ulung

Hitam kaubuat jadi abu-abu
Putih kauanggap hiasan

Bertaubatlah engkau selagi hidup


*untuk mereka yang selalu mencari pembenaran atas segala dosa yang nyata

Depok, 101010

Jagalah Terus Imanmu, Kawan

0 komentar

Kawan, engkau begitu perkasa dalam memvonis segala sesuatu yang berbau maksiat, dulu...

Kawan, engkau berkata dengan pedas dalam memvonis hal tersebut, dulu...


Kawan, tak ingatkah engkau akan hal itu?

Melupakan euforia nikmat iman dan semangat berdakwah yang menggebu?


Kawan, ke mana dirimu sekarang?

Kawan, adakah semangat dakwahmu telah luntur?


Oleh apa?


Kulihat status facebook-mu "in a relationship with "...."

Kulihat dinding facebook-mu "sayaannggg... I love you... dan bla bla bla..."


Kawan, ketika engkau menjadi tukang vonis dulu, apakah engkau pernah berpikir tentang dirimu?

Kawan, ketika engkau menggebu memusuhi tukang maksiat dulu, pernahkah engkau berkaca pada masa depanmu?


Kawan, dirimu terlalu sombong, merasa beriman, main vonis!

Kawan, lihatlah lawanmu di masa lalu, taubat dari maksiat.


Kawan, jagalah terus imanmu

Kawan, jangan jual imanmu dengan harga semurah "PACARAN"


Kawan, Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Allah selalu bersama kita, dan Allah menyertai kita.


*untuk pribadi-pribadi yang merasa bahwa imannya takkan pernah luntur dan untuk para algojo berwujud mubaligh.

Depok, 6 Oktober 2010

Ratapan Picisan

0 komentar

Mencintai adalah bagai sebuah mimpi
Lebih pekat dari ilusi

Menyayangi adalah sebuah imajinasi
Tak lebih dari senyum simpul bidadari dalam mimpi

Aku mencintai
Aku menyayangi

Semua ilusi
Semua mimpi

Dalam hati aku berkata, kapan aku dicintai?
Dalam diri aku meratap, kapan aku disayangi?

Terjerumus Cinta

0 komentar

Sengaja aku buat puisi ini
Karena hati ini lelah menjadi dingin

Sengaja aku membuat puisi
Agar tak terbaca isi hati ini

Ah, pengecut sekali diriku
Bagai anak yang jauh dari ibu

Aku bagai terjerumus ke dalam sebuah cinta
Cinta yang membuat buta

Tapi aku tak tahu apa arti cinta
Yang kadang membuat manusia terlena

Cinta, hadirlah di pelupuk mataku,
jangan jerumuskan aku

Depok, 2010
Muhammad Atqo (Sastra Indonesia UI 2009)

Iseng Aja

0 komentar

Saya memang bukan penulis yang handal, ya, memang saya akui itu. Saya tidak seperti kebanyakan mahasiswa, khususnya jurusan Sastra Indonesia, yang lain yang sangat produkti dalam hal tulis menulis, tetapi setidaknya blog yang saya buat ini sedikit menggugah hati saya untuk mencoba menulis, sambil sedikit-sedikit memperbaiki kualitas tulisan saya.
Bidang saya bukanlah cerpen, puisi, atau pun jurnalistik, tetapi bidang saya adalah sebuah kajian kontroversial. Memang terdengar aneh, namun itulah bidang tulis-menulis yang saya geluti mulai dari kelas 1 SMA hingga saat ini. Saya senang menulis sambil mencurahkan segenap emosi saya, mencoba membayangkan bahwa orang lain akan merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan saat menulis. Ya, saya adalah seorang yang kontroversial, yang senang mendapat cemoohan dari orang lain karena tulisan-tulisan saya yang mengusik “ketenangan” hidup mereka.
Dalam kesempatan ini saya ingin sekali berbagi sebuah ungkapan perasaan pribadi yang lucu dan menggelitik. Ah, bukan juga sebuah hal yang humoris, namun agak sedikit nyeleneh. Saya akan memulainya dengan hari. Selasa. Di hari itu entah mengapa perasaan saya tak menentu, gundah, dan aneh. Saya bangun seperti biasa, pukul 3.30 pagi, dan tak ada yang spesial di bangun pagi hari itu. Saya ingat bahwa hari ini saya ada janji dengan seseorang di stasiun UI, pukul 7 pagi. Terlalu lama jika harus saya ceritakan perjalanan saya dari pukul 3.30 sampai 7 pagi, jadi saya singkat saja. Sampailah saya di stasiun UI pukul 7.03. Saya pikir saya sangat terlambat, saya menunggu kawan yang hendak bertemu dengan saya itu di dekat penjual koran. 10 menit, 15 menit, tak saya lihat tanda-tanda kedatangannya. Akhirnya saya kirim pesan singkat padanya, dan dia menjawab “aku udah di kelas, maaf.” Kurang lebih seperti itulah. Hah, saya sedikit kesal mendengarnya. Namun tak ada hak untuk itu, tak ada niat juga untuk marah padanya. Akhirnya saya jalan ke kampus lagi-lagi dengan perasaan yang sangat tak menentu. Sebenarnya pagi hari itu, dia ingin memberikan sesuatu pada saya, sebuah bekal tepatnya. Hmm… jujur saya menolaknya, namun karena dibarengi perasaan tidak enak padanya, saya terima saya, yah, hitung-hitung lumayan untuk mengirit uang sarapan, hehehe. Saya mengirim pesan singkat lagi padanya, menanyakan tentang bagaimana caranya memberikan itu. Ah, terlalu panjang ceritanya. Intinya saja deh… :p
Dalam kejadian di hari Selasa itu, saya seperti mendapat seorang sahabat baru, yang entah mengapa sangat asyik untuk diajak mengobrol, padahal di hari itu secara meyakinkan, dia telah memberikan keterangan tentang dirinya seterang matahari, bahwa usia saya dan dia terpaut sangat jauh, dan dia sudah memiliki seorang anak. Hah, aneh saya ini, sebenarnya saya sudah tahu hal itu jauh sebelum dia member tahu secara terang-terangan, namun entah mengapa masih saja saya dekati dia, dan saya tertarik padanya, padahal, saya juga sudah memiliki wanita lain yang saya sukai juga. Akhirnya setelah saya meraba perasaan, benar bahwa saya ini kekurangan perhatian dari orang-orang yang lebih tua dari saya. Saya memiliki 3 oang kakak kandung, namun semuanya tidak pernah ada yang peka terhadap saya. Dari kakak kandung saya itu, saya cuma mendapat semacam formalitas perhatian tanpa saya mendapat perhatian yang tulus dengan penuh cinta. Justru dari orang lain saya mendapat perhatian, saya merasakan dekatnya seorang kakak bukan dari kakak kandung saya, melainkan dari orang lain yang baru saja saya kena empat bulan ini. Ya, saya memang butuh kasih saying orang yang lebih tua dari saya sebagai kakak, maka dari itu saya merasa nyaman dengannya. Ternyata batu seperti saya pun bisa merasakan perhatian dari orang yang memperhatikan saya. Saya yang selama ini hanya sibuk memperhatikan orang yang mungkin saya sayangi, merasa memiliki kakak baru yang lebih sayang kepada saya. Selama ini saya selalu mendapatkan cinta dan kasih sayang itu dari orang di luar rumah saya, dan saya menerima hal itu.

Depok, Mei 2010

Sedikit Renungan Saja

0 komentar

Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi sekantung
penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan
setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang
lain.
Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya
dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari
hari ke hari.
Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di
pagar.
Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan
dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Ayahnya kemudian
menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil
manahan diri/bersabar.
Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada
ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Sang ayah membawa
anaknya ke pagar dan berkata : “Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba
lihat betapa banyak lubang yang ada dipagar. Pagar ini tidak akan kembali
seperti semula.” Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang
lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar.
Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali,
tetapi akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta
maaf/menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka
fisik.
Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka.
Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat.
Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan
membuka hatimu.
Tunjukkanlah kepada teman-temanmu betapa kau menyukai mereka.

Alangkah Kasarnya Bangsa Ini

0 komentar

Aku berjalan perlahan menyusuri trotoar dengan lelah yang memuncak. Bukan hanya lelah raga kurasa, lelah pun menerpa batin yang hakekatnya tersembunyi. Padang rumput di samping trotoar seakan tahu kelelahan batinku dengan ikut menyepi, terdiam melihatku berjalan dengan membawa jutaan lelah. Tapi mereka memang selalu diam, tak memiliki mulut dan tak bersuara jika tak disuarakan. Sesekali angin berhembus pelan, sedikit menyejukkan tubuh yang sudah sangat kepanasan. Di depan terlihat seorang bocah berjalan menyusuri trotoar yang juga sedang kulalui. Baju yang ia kenakan dekil tak pernah dicuci berhari-hari. Rambutnya kusut menandakan bahwa ia tak pernah memiliki kesempatan untuk mencuci rambutnya. Matanya nanar mencari-cari sesuatu yang harus ia setorkan pada sore harinya. Di dalam got yang kering tanpa air di samping jalan yang kami lalui ia menemukan sesuatu yang sepertinya semakin menumbuhkan semangatnya di tengah terik matahari yang semakin menggila ini. Tanpa ragu ia melompat ke dalam got tersebut. Mau tak mau hatiku terusik untuk mengetahui apa yang ia cari di dalam got tanpa air tersebut. Wajah puas memancar saat ia kembali dari dalam got. Tangannya memasukkan beberapa botol plastik ke dalam karung besar yang sepertinya telah ia bawa sejak subuh hingga siang hari ini. Kembali ia berjalan menyusuri jalanan untuk mencari botol-botol plastik lainnya. Aku pun kembali meneruskan lelahku. Masih cukup jauh jarak yang harus kulalui.
Dalam perjalanan aku memikirkan, mengapa harus ada anak jalanan dan pemulung seperti anak tadi? Berjuta kata “kalau saja” memenuhi otakku, menambah lelah batinku saja. Namun pikiran itu terus berkelebatan di dalam kepalaku tanpa bisa kubendung. Sesaat berikutnya aku melihat seorang kakek tua berjalan mendorong sepeda onthel tua dengan keranjang penuh berisi nasi uduk yang terbungkus rapi. Siang panas begini mana ada yang mau makan nasi uduk, pikirku. Sesekali si Kakek mengelap peluhnya dengan sapu tangan yang ia simpan di dalam kantong celananya dan mengibas-ngibaskan bajunya untuk mengusir gerah di tubuhnya. Setelah dekat si Kakek menawariku untuk membeli nasi uduknya. Tergerak hatiku untuk membelinya, namun keadaan isi dompetku menolak segala keinginan hatiku itu. Dengan disertai senyum tulus kuangkat tangan kananku untuk menolaknya. Wajahnya jelas mengguratkan kekecewaan. Ah, kakek, kau sudah begitu tua dan lemah, mengapa tak kau suruh saja anak atau cucumu yang masih muda dan kuat untuk menjual nasi uduk itu? Atau mungkin anak-anaknya sudah memiliki pekerjaan di kantor yang nyaman, sehingga mereka tak sudi lagi untuk berjualan nasi uduk keliling? Kembali pikiran-pikiran itu menambah lelah batinku, dan aku pun mau tak mau harus setia mendengar pikiranku bersahutan. Lelah rasanya.
Perjalanan kuteruskan. Entah berapa banyak sopir angkutan umum menawariku untuk ikut bersama mobilnya, namun dengan berat hati aku harus menolaknya, padahal sudah sangat lelah kaki ini.
Aku bagai mendapatkan suntikan tenaga yang sangat besar saat perjalanan sudah mendekati titik akhir, yakni rumahku. Semakin dekat dan semakin dekat ketika kudengar sayup-sayup keributan di belakangku. Kutolehkan wajah, nampak seorang bocah yang dengan karung besar di pundaknya sedang berlari. Wajahnya pucat pasi. Rupanya ia sangat ketakutan. Di belakangnya puluhan orang mengejarnya dengan wajah-wajah marah mereka. Beragam sumpah serapah keluar dari mulut mereka mengiringi teriakan “maling!” yang saling bersahut-sahutan. Si bocah dengan wajah memelas meminta pertolongan dariku ketika ia melintas di depanku. Para pengejar sudah semakin dekat. Ah, aku hanya wanita yang lemah fisik dan keberaniannya. Kuabaikan permintaan tolong si bocah karena aku takut kepada warga-warga yang marah tersebut. Si bocah yang merasa tak mendapat pertolongan dariku, melanjutkan larinya. Sial untuknya, tepat di depan rumahku, ia jatuh tersungkur. Dagunya berdarah. Ia tertangkap dan dipukuli hingga babak belur tanpa sedikit pun mereka memberi kesempatan untuk si bocah membela diri. Rupanya ia disangka telah mencopet. Ya, hanya disangka saja. Bukan berarti benar ia yang telah mencopet. Warga menghajarnya dengan penuh kemarahan seakan-akan mereka sendirilah yang kecopetan. Si bocah hanya bisa meminta ampun tanpa ada seorang pun yang mengacuhkannya. Sering kulihat kejadian seperti itu di berita-berita kriminal, dan tak kusangka aku menyaksikan sendiri adegan tersebut di depan rumahku sendiri. Rasa miris dan malu muncul dan menambah lelah batinku. Jadi, inikah budaya masyarakat Indonesia? Kasar dan main hakim sendiri. Betapa malunya diriku menjadi bagian dari masyarakat yang anarkhis seperti itu. Apakah kita hanya akan bernafas panjang dan seperti biasa sabar mengurut dada? (1)

Depok, 2010
Muhammad Atqo Ferip (Sastra Indonesia 2009)

1.Dikutip dari puisi Taufik Ismail yang berjudul Malam Sabtu

Bangsaku Kasar, Rakyatku Malang

0 komentar

Kulihat api dalam matanya
Aku terus memandang penuh tanya
Apa sebab kemarahannya?

Seorang bocah tergeletak bersimbah darah
Sebagai korban warga yang marah
Tanpa sedikit pun mendengar keluh kesah
Mereka terus menghajar disertai sumpah serapah

Ya ampun!
Seperti inikah mental bangsa ini?
Kasar dan senang menghakimi
Tak punya hati nurani

Bocah pemulung yang malang
Kalau saja hidupmu lebih beruntung, tak perlu kau diserang

Untuk mereka yang bermental anarkis, seperti itukah budaya Indonesia?



Depok, 2010
Muhammad Atqo Ferip (Sastra Indonesia 2009)

Puisi ini dilombakan di Olimpiade Ilmiah Mahasiswa FIB UI dan menjadi 10 besar puisi terbaik)

UNTUK RISMA SMANSA

0 komentar

Barangkali ini hanya pemikiran subjektif saja, tak penting, dan terkesan emosional. Mengapa? Padahal ini adalah hal penting, faktual, dan tentu saja harus disampaikan walau dengan urat leher yang menonjol keras. Bahwa saya kecewa, itu adalah hal biasa yang tak pantas lagi diributkan. Kecewa dalam segala hal. Kecewa tatkala saya melihat sebuah kemunafikkan yang tersebar luas di dunia maya, tanpa adanya batasan lagi antara malu, dan masa lalu. Ya, malu sudah terkesan putus dari leher mereka, dan masa lalu bisa jadi bukan bagian dari diri mereka.

Masih jelas dalam ingatan saya, dan masih berdengung dalam gendang telinga saya saat dulu seorang "akhwat" dengan entengnya menyebut saya seorang munafik. Berkacalah atas apa yang sudah kau katakan wahai "ukhti"! Bukankah Rasulullah sendiri mengatakan seseorang yang hari esoknya lebih baik itu adalah yang beruntung? Kau mengatakan itu dulu, tanpa memikirkan bahwa manusia bisa berubah, dan apakah kau tak menyadari, kau sekarang menjadi lebih munafik daripada saya di masa lalu, dan beruntungnya saya daripada kau adalah saya telah mendapatkan hidayah itu, ketimbang kau yang melepas hidayah itu.

Sulit dimengerti memang jika melihat bagaimana semangatnya para aktivis dakwah sekolah yang dulu terlihat keren dengan kebiasaan nongkrong di musala, baca alquran, celana ngatung, dan kalau bicara pakai "ane-ente-akhi-afwan-syukron, dll." Baca alquran? Ya, masih jelas dalam ingatan, bagaiamana musala menjadi ramai dengan lantunan ayat-ayat suci alquran yang keluar dari mulut-mulut mereka itu. Adakah satu ayat saja dalam alquran yang memerintahkan mereka mengubah kebiasaan mereka menjadi lebih buruk? Sekarang buktinya mereka berubah menjadi lebih buruk dari dulu. Lalu apa yang mereka baca waktu itu jika alquran tidak mengajarkan seperti itu?

Kawan, saya menulis ini bukan tanpa bukti. Banyak kawan yang waktu SMA satu perjuangan dalam menegakkan kebenaran yang sesuai alquran, malah terjebak dalam hal yang dia larang dulu. Ada yang berpacaran, padahal dulunya benci melihat orang-orang pacaran, ada yang mengubah jilbabnya dari yang tadinya lebar dan tertutup menjadi kerudung kecil, transparan, ketat, dan bercelana jeans. Padahal dulu dia menggembor-gemborkan untuk memakai jilbab dengan benar kepada teman seangkatan, adik kelas, bahkan kakak kelas, dan tidak jarang mereka berbisik-bisik menjelekkan orang-orang yang tidak berkerudung atau yang berkerudung kecil. Masya Allah... Semoga saya selalu berada dalam naungannya walaupun sedikit-sedikit selalu jatuh dan futur, tetapi semua itu adalah dinamika kehidupan beragama. Bukankah semua itu ujian agar kita menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya? Ujian keimanan yang bisa saja menjatuhkannya ke dalam lembah kenistaan dan degradasi moral, atau justru menjadi titik balik seorang untuk menjadi ahli syurga yang untuk memasukinya mereka tidak perlu menunggu hisab. Semoga keridhoan Allah selalu menyertai orang-orang yang istiqomah.

Wallahua'alam.


Didedikasikan untuk Remaja Islam Musala Al-Hidayah SMANSA-ku yang kucintai.
Hilangkanlah kemunafikkan itu dari wajah islam.

Depok, 16 Maret 2010

Perdebatan Hari Ini (1)

0 komentar

Hari ini menarik sekali presentasi di kelas MPK Agama, membahas batasan antara aqidah dan muamalah. Simpel sebenarnya, muamalah itu segala yang akibatnya dirasakan manusia lain, sedangkan aqidah akibatnya dirasakan hanya oleh diri sendiri. Yang jadi perdebatan adalah mengucapkan "SELAMAT NATAL" kepada kaum Nasrani, membaca Yasin, hukum teknologi, aurat wanita, dan penegakkan syariat islam di Indonesia.

Masalah pertama, mengucap selamat natal kepada kaum Nasrani adalah sesuatu tindakan haram untuk umat islam, mengapa? Sudah jelas itu adalah haram karena secara etimologis Natal adalah mengucap selamat atas kelahiran anak Tuhan, dan barangsiapa yang menyebut Tuhan memiliki anak. Mengucapkan selamat natal itu sebenarnya punya makna yang mendalam dari sekadar basa-basi antar agama. Karena tiap upacara dan perayaan tiap agama memiliki nilai sakral dan berkaitan dengan kepercayaan dan akidah masing-masing. Karena itu masalah mengucapkan selamat kepada penganut agama lain tidak sesederhana yang dibayangkan. Sama tidak sederhananya bila seorang mengucapkan dua kalimat syahadat. Syahadatian itu punya makna yang sangat mendalam dan konsekuensi hukum yang tidak sederhana. Termasuk hingga masalah warisan, hubungan suami istri, status anak dan seterusnya. Padahal cuma dua penggal kalimat yang siapa pun mudah mengucapkannya.

Nah, dalam hal ini pengucapan tahni‘ah (ucapan selamat) natal kepada Nasrani juga memiliki implikasi hukum yang tidak sederhana. Benar bahwa umat islam menghormati dan menghargai kepercayaan agama lain bahkan melindungi bila mereka seorang dzimmi, namun perlu diberi garis tengah yang jelas. Manakah batasan hormat dan ridha disini. Hormat adalah suatu hal dan ridha adalah yang lain. Kita hormati Kaum Nasrani karena memang itu kewajiban. Hak-hak mereka kita penuhi karena itu kewajiban. Tapi memberi ucapan selamat, ini mempunyai makna ridha, artinya kita rela dan mengakui apa yang mereka yakini. Ini sudah jelas masuk masalah aqidah dan bukan lagi muamalah. Dan inilah yang menjadi batas tegas di sini.

Mengenai membaca Yasin yang dilakukan sekelompok orang tiap malam Jumat, hukumnya apa sih?

Sebenarnya, tidak ada masalah apa pun jika seseorang hendak membaca surat Yasin, bahkan itu adalah hal yang baik, sebab itu merupakan salah satu surat Al Quranul Karim. Namun, masalah mulai ada ketika membaca surat Yasin dikhususkan pada malam Jumat saja, tidak pada malam lainnya, dan tidak pula surat yang lainnya, lalu dibarengi dengan keyakinan atau fadhilah tertentu. Maka ini semua membutuhkan dalil khusus yang shahih untuk melaksanakannya. Jika, tidak ada maka tidak boleh melaksanakannya apalagi merutinkannya. Sebab, hal tersebut telah menjadi hal baru dalam agama. Ketetapan ini sesuai dengan kaidah yang ditetapkan para ulama: "Hukum asal dalam ibadah adalah batil, sampai adanya dalil yang menunjukkan perintahnya.” (Imam Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, 1/344. Maktabah Al Kulliyat Al Azhariyah). Jadi, selama belum ada dalil yang mencontohkan atau memerintahkan, maka ibadah tersebut batil dan mengada-ngada. Kaidah ini berasal dari hadits berikut: "Barangsiapa yang membuat hal baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka itu tertolak." (HR. Bukhari No. 2550. Muslim No. 1718). Dalam hal yasinan setiap malam Jumat ini pun, kita tidak akan menemukan keterangannya dalam Al Quran dan As Sunnah tentang keutamaannya dibaca secara khusus pada malam Jumat.

Kedudukan Hadits-Hadits Tentang Yasin
Hadits Pertama, Dari Al Hasan Al Bashri Radhiallahu ‘Anhu:
Dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang membaca surat Yasin malam hari atau siang, dengan mengharapkan keridhaan Allah, maka dia akan diampuni." (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, 19/62/145). Hadits ini dha’if. Sebab, Al Hasan tidak mendengar langsung hadits itu dari Abu Hurairah. Sementara dalam sanadnya terdapat Aghlab bin Tamim. Berkata Imam Al Haitsami tentang dia: "Dha’if." (Imam Al Haitsami, Majma’ az Zawaw’id, 7/97. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah). Sementara Imam Bukhari berkata tentang Aghlab bin Tamim: “Munkarul hadits (haditsnya munkar).” Imam Yahya bin Ma’in mengatakan: “Tidak ada apa-apanya.” Ibnu ‘Adi berkata: “Pada umumnya hadits-hadits darinya tidak terjaga. ”Berkata Maslamah bin Qasim: “Munkarul hadits.” (Imam Ibnu Hajar, Lisanul Mizan, 1/ 194). Maka jelaslah kedhaifan hadits tersebut.

Hadits Kedua. Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: Dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang merutinkan membaca Yasin setiap malam, lalu dia mati, maka dia mati syahid.” Hadits ini palsu. Berkata Imam Al Haitsami tentang hadits ini: Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam Ash Shaghir, di dalam sanadnya terdapat Sa’id bin Musa Al Azdi, seorang pendusta. (Majma’ Az Zawaid). Sementara Imam Ibnu Hibban menuduh Sa’id bi Musa sebagai pemalsu hadits. (Imam Ibnu Hajar, Lisanul Mizan, 1/435) Maka, jelaslah kepalsuan hadits ini.

Hadits Ketiga. Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang menziarihi kubur dua orang tuanya setiap Jum’at, lalu dibacakan Yasin pada sisinya, maka akan diampunkan baginya setiap ayat atau huruf.”

Hadits ini palsu. Ibnu ‘Adi berkata: “Hadits ini batil dan tidak ada asalnya sanad ini.” Ad Daruquthni mengatakan: “Hadits ini palsu, oleh karena itu Ibnul Jauzi memasukkan hadits ini kedalam kitabnya Al Maudhu’at (hadits-hadits palsu).” (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Silsilah Adh Dha’ifah, 1/127/ 50)

Hadits Keempat. Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, dan hatinya Al Quran adalah Yasin, dan barangsiapa yang membaca Yasin, maka Allah tetapkan baginya seperti membaca Al Quran sepuluh kali.” (HR. At Tirmidzi N0. 3048). Hadits ini juga palsu. Kata Imam At Tirmidzi dalam sanadnya terdapat Harun Abu Muhammad seorang Syaikh yang majhul (tidak dikenal). Syaikh Al Albany mengatakan hadits ini palsu, lantaran Harun Abu Muhammad. Selain itu dalam sanadnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ibnu Abi Hatim bertanya kepada ayahnya (Imam Abu Hatim Ar Razi) tentang hadits ini dia menjawab: “Muqatil ini adalah Muqatil bin Sulaiman, aku pernah melihat hadits ini pada awal kitabnya yang telah dipalsukannya. Muqatil ini haditsnya batil dan tidak ada dasarnya.” Waki’ berkata: Muqatil adalah pendusta.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, As Silsilah Adh Dha’ifah, 1/246/ 169)

Sudah jelas bahwa hukum membaca Yasin itu masih dalam perbincangan para ulama dan cenderung makruh bahkan haram jika mengkhususkan membacanya bahkan melebihkannya dari surat-surat yang lain...

Bersambung...

Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana

6 komentar

Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa lupa. Ulang tahun pertama, Aa lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.

Ulang tahun kedua, Aa harus ke luar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut, "Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara..."

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.

Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

"Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A Ridwan?" Diah sahabatku menatapku heran. "Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia... Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja..." Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.

"Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?" tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. "Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A Ridwan." Diah tertawa geli. "Kamu belum tahu kakakku, sih!" Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya... Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.

Begitulah... aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim SMS singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.

Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

"Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?" Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. "Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na'udzubillah!" Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. "Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali." Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

"Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur..." Ibu berkata tenang.

Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.

Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
Dengan kata yang tak sempat diucapkan hujan kepada awan yang menjadikannya tiada...

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan kayu kepada api yang menjadikannya abu....

Serang, 26 Maret 2009

Betapa Sakitnya

0 komentar

Berjalan aku dalam hutan lebat yang menusuk...

Indah nian tusukkan itu, menyantap habis darahku, mengeluarkannya sedikit demi sedikit menjemputku untuk menemui sang ajal...

Berteriak aku karena sakit, menyeringai aku dalam kepiluan...

Kata-kata indah itu kian menusukku...
Tusukannya memang asyik, namun bekasnya sangat sakit...

Aku tak suka itu, kata-kita indah yang hanya penuh dengan retorika...
Atau bahasa awamnya, "BOHONG"

Mengapa harus ada sifat bohong padahal ALLAH menciptakan manusia dengan kebenaran?
Mengapa harus ada dusta sedangkan apa yang ALLAH tuliskan itu pasti dan tanpa dusta?
Mengapa harus ada sifat buruk itu jika Muhammad bergelar Al-Amin?

Ah, manusia, penuh teka-teki, hanya mau menyakiti tanpa mau disakiti...
Semua seperti itu, termasuk diriku yang sangat picik ini...
Biar ALLAH saja yang mengadili...

Depok, 3 Maret 2010

Perkembangan Bahasa Gaul di Indonesia

0 komentar

Pendahuluan
Dalam berkomunikasi, manusia membutuhkan sarana untuk melakukannya. Bahasa merupakan salah satu sarana komunikasi yang amat penting dalam kehidupan. Di Indonesia, yang wilayahnya sangat luas, tentu diperlukan sebuah sarana komunikasi yang kuat dan mencakup semuanya, baik dari wilayah yang berbeda, usia yang berbeda, atau tingkatan sosial yang berbeda. Untuk itulah ditetapkan bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan sebagai bahasa persatuan Negara Republik Indonesia, namun zaman modern ini justru semakin banyak sekali bahasa yang berkembang melenceng dari bahasa induknya, yakni bahasa Indonesia.
Perkembangan bahasa yang semakin luas dan melenceng dari bahasa induk itu merupakan perkembangan yang dipelopori oleh para remajanya. Hal itu disebabkan karena remaja memasuki tahap perkembangan kognitif yang disebut tahap formal operasional. Tahapan ini merupakan tahap tertinggi perkembangan kognitif manusia. Pada tahap ini individu mulai mengembangkan kapasitas abstraksinya. (Papalia: 2004). Di samping merupakan bagian dari proses perkembangan kognitif, munculnya penggunaan bahasa gaul juga merupakan ciri dari perkembangan psikososial remaja. (Erikson: 1968).
Kemudian, bagaimana dengan perkembangan bahasa gaul di Indonesia yang diawali oleh munculnya bahasa prokem pada tahun 1970-an, hingga munculnya bahasa alay pada tahun 2000-an ini? Apakah penggunaan bahasa gaul menunjukkan bahwa bahasa itu bersifat universal, unik, dan produktif? Berikut uraiannya.

Perkembangan Bahasa Gaul di Kalangan Remaja Indonesia

1. Asal Mula Bahasa Gaul
Bahasa gaul sebenarnya sudah ada sejak 1970-an. Awalnya istilah-istilah dalam bahasa gaul itu untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas tertentu, tetapi karena sering juga digunakan di luar komunitasnya, lama-lama istilah-istilah tersebut jadi bahasa sehari-hari. Komunitas yang menciptakan bahasa ini adalah para preman yang bertujuan untuk menyamarkan apa yang mereka bicarakan agar tidak terlacak oleh orang lain, terutama polisi. Bahasa mereka disebut dengan bahasa prokem. Kata prokem sendiri merupakan bentukkan dari kata preman, kemudian menjadi koprem, dan terakhir menjadi prokem.
Bentukkan-bentukkan kata dalam bahasa prokem pun tidak jauh berbeda dengan istilah aslinya, seperti bokap yang merupakan pengganti dari kata bapak atau ayah. Biasanya pembentukannya adalah dengan cara dibalik pembacaannya atau ditambahi huruf di akhir kata. Kata bokap adalah contoh kata yang pembentukannya dengan cara dibalik, sedangkan pembentukkan kata dalam bahasa prokem yang dengan cara menambahkan ko di awal kata, contohnya adalah kata mokat yang berarti mati pembentukannya adalah mati - (ko+mat) – mokat.
Umumnya pembentukkan kata dalam bahasa prokem lebih teratur dan ada rumusnya, seperti
Mati-komat(ko+mat)-mokat
Bini-kobin(ko+bin)-bokin
Beli-kobel(ko+bel)-bokel
Bisa - kobis (ko+bis)-bokis
Selain para preman yang menggunakan bahasa-bahasa rahasia ini, para waria pun menggunakannya untuk berkomunikasi bersama sesama waria. Bentukkan katanya pun berbeda dengan bahasa yang diciptakan preman. Bahasa para waria ini disebut bahasa bencong. Ke depannya, kaum waria ini lebih banyak berkreasi dengan bahasa gaul ini dengan menciptakan banyak istilah-istilah baru.
2. Penggunaan Bahasa Gaul di Kalangan Remaja
Bahasa-bahasa yang dipakai oleh kaum yang terbuang di zaman dahulu itu kini marak dipakai di kalangan remaja. Kata-kata seperti bokap, nyokap, bonyok, pembokat, dll. seperti sudah tidak asing lagi di telinga, karena istilah-istilah itu sudah sering sekali diucapkan para remaja di Indonesia. Dalam perkembangannya justru remaja-remaja inilah yang lebih banyak menggunakan bahasa gaul untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari bersama teman-temannya.
Remaja memiliki peran yang besar dalam perkembangan bahasa gaul ini, karena saat remaja adalah saat di mana aspek kognitif berkembang dengan pesat. Pada tahap ini, manusia cenderung lebih menunjukkan kapasitas abstraknya, yakni dengan menggunakan bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh mereka sendiri (Papalia: 2004). Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, perkembangan bahasa remaja mengalami peningkatan pesat. Kosakata remaja terus mengalami perkembangan seiring dengan bertambahnya referensi bacaan dengan topik-topik yang lebih kompleks.
Menurut Owen (dalam Papalia: 2004) remaja mulai peka dengan kata-kata yang memiliki makna ganda. Mereka menyukai penggunaan metafora, ironi, dan bermain dengan kata-kata untuk mengekspresikan pendapat mereka. Terkadang mereka menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang sifatnya tidak baku. Bahasa seperti inilah yang kemudian banyak dikenal dengan istilah bahasa gaul.
Di samping merupakan bagian dari proses perkembangan kognitif, munculnya penggunaan bahasa gaul juga merupakan ciri dari perkembangan psikososial remaja. Menurut Erikson (1968), remaja memasuki tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role confusion. Hal yang dominan terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan pembentukan identitas. Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki identitas sendiri yang terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa. Penggunaan bahasa gaul ini merupakan bagian dari proses perkembangan mereka sebagai identitas independensi mereka dari dunia orang dewasa dan anak-anak.
Media cetak maupun media elektronik termasuk sarana dalam memperkenalkan bahasa gaul. Bahasa gaul dalam pemakaiannya berbentuk macam-macam, di antaranya bahasa gaul yang digunakan dalam stiker, film, novel, cerpen, tabloid, majalah, radio, internet, dan pada saat komunikasi melalui Short Messages Service (SMS).
Kehadiran bahasa gaul itu dapat dianggap wajar karena sesuai dengan tuntutan perkembangan nurani anak usia remaja. Masa pemakainya terbatas pada situasi tidak resmi. Jika mereka berada di luar dari lingkungan kelompoknya bahasa yang digunakan beralih ke bahasa lain yang berlaku di tempat umum itu. Kehadirannya dalam lingkungan bahasa daerah atau bahasa Indonesia sesungguhnya tidak perlu dirisaukan karena bahasa itu masing-masing muncul dan berkembang sesuai dengan fungsi dan keperluan masing-masing.
Keaktifan sehari-hari para remaja lebih banyak berkaitan dengan kehidupan keluarga, keadaan sekolah, dan/atau perguruan tinggi, serta masalah-masalah kenakalan remaja. Ini menyiratkan bahwa kosakata yang timbul kemudian mengacu pada hal dan masalah sekitar rumah, pergaulan, pendidikan, dan kenakalan remaja yang terungkap dengan istilah kekerabatan, kata ganti orang, masalah seks, narkotik dan obat-obatan sejenis serta minuman keras. Hal ini sama sekali tidak berarti bahwa semua kosakata yang dulunya diciptakan oleh kaum preman sama sekali tidak digunakan para pemuda dan remaja, tetapi fungsi suatu benda dalam suatu kelompok, yang bentuknya juga dikenal anggota kelompok lain, tentulah berbeda.
Dari uraian di atas tampak bahwa perbedaan bahasa gaul antara preman dan para remaja masa kini terjadi karena penuturnya berbeda, fungsi dan tujuan pemakaiannya pun berbeda. Kaum preman melakukan tindakan kejahatan, para pemuda dan remaja suka bergembira dan bergaul dengan sesamanya. Setelah bahasa gaul ini lebih banyak digunakan para pemuda dan remaja pengertian bahasa gaul atau bahasa prokem ini telah berubah atau lebih tepat dikatakan bergeser maknanya.
Bahasa gaul ini tidak lagi disediakan dengan bentuk dan rumus atau kode bahasa itu, melainkan lebih ditonjolkan sebagai bahasa kode atau sandi yang dipakai oleh kelompok tertentu, dalam hal ini para pemuda dan remaja. Setiap kelompok dapat saja memberi inpterpretasi yang berbeda-beda menurut pengertian masing-masing, karena itu, dapat kita temukan sejumlah variasi dalam pemakaian kalimat bahasa Indonesia. Inilah yang merupakan salah satu ciri pembeda bahasa gaul kaum preman, pencetus dan pencipta bahasa ini, dengan bahasa gaul kaum pemuda dan remaja saat ini.

3. Bahasa Gaul Masa Kini
Seiring dengan perkembangan zaman, dan perkembangan teknologi, bahasa gaul itu tidak hanya sekadar istilah, namun juga meluas ke tulisannya. Tulisan-tulisan gaul itu dipicu oleh makin maraknya penggunaan fasilitas sosialisasi seperti Yahoo Messenger, Friendster, Facebook, dll. yang tentu saja dalam penggunaannya lebih banyak menggunakan tulisan daripada lisan. Karena pengaruh itulah muncul tulisan-tulisan yang terlihat aneh dan sulit dibaca, seperti menggunakan huruf kapital dan biasa secara bergantian antara satu huruf dengan huruf yang lainnya dalam satu kata, atau menggunakan angka untuk mengganti huruf. Selain itu juga biasanya mereka menyingkat kata. Contoh tulisan dengan huruf yang berganti kapital dan tidak kapital bAhAsA iNdOnEsIa dan ini contoh kata yang menggunakan angka sebagai pengganti huruf b4h454 1nd0n3514 atau kata yang berupa singkatan bhs indnsa.
Dengan munculnya tulisan-tulisan hasil kreasi anak muda ini, bahasa gaul dunia maya menjadi sulit dimengerti, terutama kalau sudah berbentuk kalimat panjang yang berupa curahan hati. Tulisan-tulisan seperti itu sekarang lebih populer disebut dengan bahasa alay. Berikut adalah contoh tulisan curahan hati pengguna huruf gaul atau alay di sebuah situs jejaring sosial: cXnK qMoh tO cKiDnAAAAaaaAaAaaaa……. (sayang kamu tuh sakitnya) m_tHa apOn YoH……………… (minta ampun ya) qoH tLuZ”aN uCHA bWaD tTeP qEqEUh cXnK qMo………. (aku terus terusan berusaha buat tetep kekeuh sayang kamu).


4. Posisi Bahasa dan Tulisan Gaul dalam Masyarakat
Bahasa gaul rupanya tidak cuma menarik untuk para penggunanya, namun menarik juga untuk diseminarkan. Buktinya, pada tahun 2005 yang lalu pernah digelar acara diskusi "Bahasa Slang, Bahasa Gaul dalam Dinamika Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing" di Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional. Yang menjadi pembicaranya antara lain seniman Remy Silado dan Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Dendy Sugono.
Menurut Dendy, bisa saja istilah-istilah gaul dicantumkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang akan diterbitkan pada tahun 2008. Di samping itu, Pusat Bahasa Depdiknas pun akan mengeluarkan KBBI yang hanya memuat istilah-istilah baku. Dengan kata lain, jika inisiatif Dendy Sugono ini terlaksana, pada tahun 2008 akan ada dua versi KBBI yang salah satunya akan mencantumkan istilah-istilah gaul.

5. Contoh-contoh Bahasa Gaul dan Bahasa Alay
Mati-komat(ko+mat)-mokat
Bini-kobin(ko+bin)-bokin
Beli-kobel(ko+bel)-bokel
Bisa-kobis(ko+bis)-bokis
Makan-mekong
Sakit-sekong
Laki-lekong
Lesbian-lesbong
Mana-menong
Mati-ma(+pa)ti(+pi)-mapatipi
Cina-ci(+pi)na(+pa)-cipinapa
Gila-gi(+pi)la(+pa)-gipilapa
Tilang- ti(+pi)la(+pa)ng–tipilapang
Banci-b(in)an-c(in)i-binancini
Mandi-m(in)an-d(in)i-minandini
Toko-t(in)o-k(in)o-tinokino
Homo-h(in)o-m(in)o-hinomino
yOz aLaWAiCe d bEzT… (you always the best, kamu selalu yang terbaik)
iN meYe heArD„„(in my heart, dalam hatiku)
tHo_tHo…(dadah)
LupHz yOu„„„(love you, cinta kamu)
bU_bU„„„(bubu, tidur)

6. Simpulan
Bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi, jadi penggunaan bahasa gaul atau bahasa alay dalam kehidupan, merupakan hal yang sah dan wajar saja jika dilihat pengertian bahasa. Penggunaan bahasa gaul menunjukkan bahwa bahasa memang bersifat universal, unik, dan produktif. Hal tersebut ditunjukkan dengan munculnya kosakata baru dan masyarakat pun tidak harus menunggu lama untuk mengerti tentang kata-kata yang baru itu. Penggunaan bahasa gaul memang sah saja di dalam masyarakat, asal penggunaannya tepat sasaran, dan dalam waktu yang tepat.
Bahasa gaul yang dulunya hanya dipakai oleh kaum yang terbuang dari masyarakat ini, telah menjadi bahasa yang umum digunakan terutama oleh kalangan remaja. Dengan menggunakan bahasa gaul ini, mereka merasa dapat mengekspresikan perasaa mereka. Dalam perkembangannya bahasa ini menjadi sulit untuk dimengerti, sehingga memunculkan kaum baru yang menggunakan bahasa atau istilah-istilah ini yang disebut kaum alay.

DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa. 1985.
Anwar, Khaidir. Fungsi dan peranan Bahasa: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 1984.
Erikson, E. Childhood and society (2nd edition). New York: W.W. Norton & Company Inc. 1968.
Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2007.
Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D. Human development (9th edition). Boston: McGraw Hill Company, Inc. 2004.
Sahertian, Debby. Kamus Bahasa Gaul. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2000.
Utorodewo, Felicia N., et al. Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI. 2009.

Untukmu, Adikku...

3 komentar

Entah apa yang saat ini kurasa...
Tak ada...
Mungkin...
Haru...?
Mungkin
Sedih...?
Iya
Senang...?
Tidak!

Aku memutuskan sesuatu dengan dasar pertimbangan yang sangat pedih...
Dia membuatku membuat keputusan ini...

Jahatkah aku?
Ya
Tidak
Ya
Tidak juga

Aku hanya ingin yang terbaik untuknya...

Ah, aku tak sanggup lagi membicarakannya, aku tak sanggup lagi memaksanya...
Yang kutahu, aku masih tetap ada untuknya...
Untuk sekadar menghapus air matanya saat ia menangis...

Tapi, tak ada hak lagi untuk itu...

Aku tahu, DIA telah merencanakan yang terbaik...
Untukku...
Untukmu...
Untuk kita...
Untuk semua...

Selamat jalan kekasih, engkau telah menjadi sobatku, kini, esok, dan seterusnya...
Dan DIA akan mengumpulkan kita berdua, bersama orang yang dikasihi-NYA dalam tempat yang terbaik, yang tak terbayang dalam benak manusia sebelumnya...